Pagi itu, matahari baru saja menyusup lewat jendela apartemen lantai tiga di Jakarta Selatan. Ada bau ragi dan tepung yang anehnya menenangkan. Saya sedang membentuk adonan roti untuk pertama kali—tangan lengket, meja penuh tepung, telinga menangkap suara kompor tetangga—dan sadar bahwa sesuatu dalam diri saya berubah. Dapur yang selama ini terasa seperti tempat ‘sekadar menyiapkan makan’ tiba-tiba menjadi ruang eksperimen, terapi, dan pembelajaran yang tak terduga.
Awal yang Sederhana
Awalnya, hobi ini lahir dari kebutuhan. Tahun 2017 aku sering pulang larut, malas keluar, dan ingin makan yang lebih baik daripada nasi instan. Mulai dari mencoba resep-sederhana: tumis sayur, telur dadar dengan daun bawang, hingga sup cepat. Setiap akhir pekan aku menyempatkan diri bereksperimen—mencatat takaran, mengubah bumbu sedikit demi sedikit. Ada rasa kepuasan kecil ketika resep itu jadi enak. Tapi yang mengubah semuanya bukanlah suatu resep ajaib, melainkan satu artikel yang kubuka malam-malam sambil menyeruput kopi: panduan membuat starter sourdough. Aku klik link tanpa harapan—di situlah aku menemukan tulisan-tulisan seperti di akisjoseph yang membuka mata tentang proses, ketekunan, dan kegagalan yang terstruktur.
Tantangan yang Membentuk
Belajar memasak tidak semulus menyalakan kompor. Ada kegagalan yang membuat frustrasi—roti yang tak mengembang setelah 12 jam menunggu, sambal yang terlalu asam karena keliru menakar, kue yang bantat karena loyang yang salah ukuran. Suatu malam jam 2 pagi, aku berdiri di dapur memandangi loyang gosong dan berpikir, “Kenapa aku terus melakukan ini?” Jawaban sederhana: karena setiap kegagalan mengajari sesuatu yang tidak akan kudapat lewat teori. Aku mulai mencatat kesalahan: suhu oven, kelembapan udara, waktu fermentasi. Perlahan, aku memahami bahwa dapur merespons seperti organisme hidup. Ia mengajarkan sabar. Ia memberi data yang nyata, bukan hanya opini.
Proses yang Mengubah Perspektif
Mengotak-atik resep membuatku melihat dapur sebagai laboratorium kecil. Wajan bukan lagi sekadar alat untuk menumis—ia menjadi medium untuk mengelola reaksi kimia sederhana antara gula, lemak, dan panas. Tangan yang dulu bergerak mekanis kini sensitif pada tekstur adonan; jari-jari bisa merasakan kapan adonan sudah gluten-kal. Ada momen tertentu yang tak kuterima sebelumnya: ketika aku pertama kali membuat kaldu bening dari tulang ayam yang direbus lambat selama enam jam. Saat sendok menyelam dan aroma yang kaya muncul, aku merasa seperti penemu. Itu mengajari aku bahwa memasak bukan cuma soal hasil. Prosesnya menguatkan ketelitian, kesabaran, dan kemampuan membaca sinyal kecil dari bahan makanan.
Dapur sebagai Ruang Pembelajaran dan Ruang Hidup
Seiring waktu, dapur menjadi cermin perubahan pribadiku. Ketika aku stres, aku menguleni adonan; ketika sedih, aku membuat sup yang lambat matangnya. Ada ritual: musik jazz di sore hari, timer yang berbunyi seperti napas, catatan resep yang penuh coretan. Saya mengundang teman-teman kecil-kecilan untuk uji rasa, mendengar komentar pedas yang membangun, dan tertawa ketika mereka menyebut masakanku ‘nggak standar restoran’. Dari situ, aku belajar pentingnya umpan balik—bukan sebagai penghakiman, tapi sebagai data untuk iterasi berikutnya.
Praktik memasak juga memperluas rasa hormatku pada bahan sederhana. Bawang merah yang dipotong tipis berubah aromanya setelah dipanggang. Kecap manis, jika ditambahkan di detik yang tepat, memberikan lapisan rasa yang tak tergantikan. Waktu dan teknik mulai lebih dihargai daripada bahan mahal. Itu perspektif yang sama yang saya bawa ke pekerjaan lain: menghargai proses lebih dari pencapaian instan.
Saya tidak menjadi juru masak profesional. Aku tetap bekerja di bidang yang berbeda, tetapi dapur mengajarkan cara bekerja yang saya adaptasi: dokumentasi percobaan, jadwal yang realistis, dan evaluasi berkala. Kegigihan kecil dalam resep berimbas pada proyek profesional—lebih siap menghadapi trial and error, lebih sabar memetakan langkah perbaikan.
Akhirnya, yang paling berharga bukanlah roti sempurna atau sambal yang legendaris. Ini adalah cara pandang baru terhadap ruang yang sederhana itu. Dapur kini adalah tempat di mana aku belajar mengelola kegagalan, merayakan eksperimen, dan merawat diri lewat hal-hal kecil. Setiap kali mengupas bawang atau menyalakan kompor, aku diingatkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari kebiasaan kecil. Dan itu, untukku, sudah cukup.